CINTA DAN RASA SYUKUR

Cinta
dan rasa Syukur. Dua kata yang ketika saya coba melakukan permenungan
merupakan kata-kata yang memiliki kuasa yang luar biasa. Kasih dan rasa
syukur menggambarkan suatu emosi dari manusia yang ketika kita mau
mencoba mengamati dalam kehidupan sehari-hari mempunyai daya yang sangat
besar pada pemberdayaan kehidupan.
Mungkin banyak dari kita
yang telah mengetahui suatu penelitian yang dilakukan oleh Masaru Emoto
yang ditulis dalam bukunya yang berjudul The Miracle of Water. Inti dari
penelitian itu, bahwa air dapat menanggapi perlakuan yang diberikan
kepadanya. Air dapat membentuk butiran kristal yang sangat indah, namun
ini tergantung dari perlakuan yang diberikan padanya. Ketika ia diberi
masukan kata-kata dan emosi negatif, bentuk butiran kristal yang
dihasilkan menjadi buruk, namun ketika diberi masukan kata-kata dan
emosi yang positif dan membangun, butiran kristal yang dihasilkan akan
menjadi sangat indah. Dari sekian banyak kata positif yang dilabelkan
dalam air pada penelitian tersebut, kata-kata positif membentuk butiran
Kristal menjadi paling indah dari yang lain adalah kata-kata berlabel
“Love and Gratitude”.
Ngomong-ngomong tubuh manusia sebagian
besar terdiri atas air (walaupun saya pribadi kurang tau pasti
prosentasenya, mungkin di antara Anda ada yang mengetahui angka
pastinya). Jadi kalau kita sering memberi masukan berupa kata-kata atau
emosi tertentu pada diri kita, agaknya akan berpengaruh juga pada
kondisi maupun keberadaan kita sebagai manusia.
“Gimana mau
bersyukur dan mengasihi mas, orang kita ini sekarang lagi susah, belum
lagi sakit hati gara-gara abis kena tipu orang. Ga usah yang
aneh-anehlah!!” begitu tanggapan seorang teman ketika mendengar argumen
saya menyangkut kuasa emosi “love and gratitude”. Memang tidak bisa
disalahkan, pendapat orang tersebut sangat benar adanya. Ketika
menghadapi suatu masalah tentu emosi spontan kita adalah kecewa dan
bukan bersyukur. Ketika kita mengalami konflik ataupun diperlakukan yang
tidak layak oleh orang lain, sudah pasti kita spontan akan marah dan
mungkin bahkan membenci orang tersebut, bukan mengasihinya. Hal ini
sangat lumrah dan manusiawi.
Namun, bukankah pada hakekatnya
setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang lebih baik, apakah Anda
pernah bertemu orang yang visi dan impian dari hidupnya adalah memiliki
hidup yang penuh dengan kesengsaraan? Bukankah sebenarnya setiap
manusia menginginkan kebahagiaan? Jadi, kalau memang benar demikian,
kenapa gak kita coba untuk belajar mengelola dan memilih kata-kata dan
emosi yang kita pakai untuk menanggapai situasi dan peristiwa yang
terjadi? Salah satu pernyataan Anthony Robbins, bahwa makna seringkali
hanya soal fokus. Apa maksudnya? Anda pernah mengamati, ada suatu
peristiwa yang dialami oleh 2 orang yang berbeda, namun walaupun
peristiwanya sama, respon dari 2 orang tersebut berbeda.
Contoh
nyatanya begini: ada 2 anak yang masing-masing terpaksa harus tinggal
di rumah sendirian karena orang tua dan saudara-saudaranya harus pergi
untuk urusan yang tidak bisa mereka tinggal. Apa yang terjadi pada
masing-masing anak tersebut? Anak yang satu sangat sedih, dan sepanjang
hari dihabiskannya hanya dengan menunggu kepulangan dari orang tua atau
saudaranya, tidak ada hal-hal yang ia lakukan, sesekali ia menangis
karena merasakan kesepian yang amat sangat. Namun anak yang lain sangat
berbeda. Ia justru merasa senang karena bisa aktivitas apapun yang dia
mau di rumah. Justru karena tidak ada siapa-siapa dia bisa jadi “raja”
di rumah itu, dia melakukan “pesta” di rumahnya yang kosong itu, persis
yang dilakukan oleh anak dalam film Home Alone yang tinggal sendiri di
rumah. Ia bisa menikmati hidupnya, alih-alih meratapi kondisinya. Kenapa
ya bisa gitu? Kita sebenarnya punya kendali untuk memilih emosi seperti
apa yang akan kita pakai untuk menanggapi suatu keadaan dan peristiwa,
asal kita mau belajar untuk melatih respon kita.
Lalu gimana
dengan penerapan emosi “Kasih”, padahal kita sudah banyak sakit hati
pada banyak orang yang telah banyak mengecewakan kita. Benar bahwa ini
tidak mudah, apalagi kalau sudah menyangkut luka batin yang sudah masuk
ke alam bawah sadar kita. Rasanya hampir mustahil untuk memancarkan
kasih. Tapi mungkin kita harus kembali lagi mengingat tujuan dari
kehidupan kita. Kebahagiaan kan? Kalau dengan memancarkan kasih kita
bisa hidup bahagia, kenapa kita tidak mengupayakan untuk selalu
memancarkan kasih walaupun itu mungkin sangat banyak tantangannya.
Mungkin banyak di antara kita yang dalam kehidupan sehari-hari dapat
berusaha sedemikian rupa untuk mengerjakan apa yang menjadi kewajibannya
pada pekerjaan, atau pada tanggung jawab kita masing-masing. Jadi
bukankah sebenarnya kita sudah terbiasa mengupayakan segala sesuatu
walaupun terdapat banyak tantangan pastinya? Kalau kita memang kita
sudah biasa dengan yang namanya berusaha, ya kenapa kita juga tidak
berusaha dan terus belajar dengan berbagai pendekatan dan cara yang kita
bisa lakukan untuk mengupayakan agar kita selalu dapat memancarkan
kasih dalam setiap keberadaan hidup kita? Ini kan pada akhirnya toh juga
untuk tujuan inti dari kehidupan kita, yaitu kebahagiaan, iya kan?
Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita akan menghadapi banyak
tantangan untuk memancarkan kedua emosi ini, tapi alangkah baiknya kalau
kita sama-sama membiasakan untuk selalu mengupayakan emosi-emosi ini,
karena mungkin juga bukan karena banyak tantangan untuk mengupayakan
emosi-emosi tersebut, mungkin karena kita lupa untuk mengelola tanggapan
kita dalam menghadapi situasi, yang dengan begitu saja terbawa oleh
rutinitas kita sehari-hari, kita lupa bahwa sebenarnya kita punya
kendali. Kita semua menginginkan kebahagiaan, jadi mari sama-sama kita
selalu belajar untuk memancarkan “ kasih dan rasa syukur” dalam setiap
keberadaan hidup kita..,
www.Onho/Lostar.com
Muantap brow.....
BalasHapus