“ayah, dingin… “ seorang anak perempuan yang berbaring di pojok teras rumah sakit mengeluh pada ayahnya dengan nada merintih kesakitan.
“tidurlah nak, dokter sebentar lagi akan datang” jawab ayahnya menghibur, Tetesan air mata mengalir dari matanya. Hatinya tercabik-cabik melihat anaknya terbaring lemas dilantai hanya beralaskan selembar selendang, dalam hati dia menyalahkan dirinya sendiri,” maafkan ayah nak… ayah hanyalah seorang pemulung yang miskin, mana mungkin ayah kuat membayar biaya rumah sakit ”
Anak perempuan itu sudah cukup lama tertidur, ayahnya duduk disampingnya, lama tertidur anak perempuannya tidak bergerak, ayahnya mulai curiga ayahnya meraih tangannya dan digenggam, tangan anaknya dingin serasa sedingin es, tetesan air matanya semakin tak tertahan, dia tahu anaknya telah terbujur kaku.
Lagi-lagi ayahnya tak bisa berbuat apa-apa, ayahnya kebingungan, bagaimana cara menguburkan anak perempuannya, dikota tanah pemakaman mahal dan bila membawanya ke desa dia harus menyewa ambulance untuk membawa mayat anaknya.
Setelah cukup lama berfikir kemudian ayahnya ingat dengan gerobak sampah yang dibawanya untuk mengantar anaknya kerumah sakit. Dia memasukkan mayat anaknya kedalam gerobak dan menutupinya dengan selendang, ayahnya mendorong gerobak itu sampai ke stasiun kereta api padahal jarak rumah sakit ke stasion kereta api sangat jauh.
Sesampainya distasion Dia menggendong anaknya yang sudah terbujur kaku dengan selendang berwarna hijau kusam memasuki kereta api, semua orang yang ada digerbong melihatnya dengan jijik, seorang wanita didekatnya bertanya karena penasaran dengan anak perempuan yang digendongnya “ anak perempuanmu sakit apa? Mau dibawa kerumah sakit? ”
Ayahnya menjawab” anakku sudah meninggal, aku akan membawanya kedesa untuk ku makamkan” perempuan itu tersentak kaget. Seorang laki-laki disampingnya tak sengaja mendengar percakapan mereka berdua, laki-laki itu tiba-tiba berteriak, “ ada mayat, ini pembunuhan…!!!” seluruh penumpang yang ada digerbong heboh, ayah dan mayat anak perempuannya diseret turun dari gerbong dan dibawa kekantor polisi, ayahnya mencoba menjelaskan bahwa anaknya sakit tapi rumah sakit tidak mau menolongnya karena mereka tidak mempunyai uang dan akhirnya anak perempuannya meninggal dan karena tidak punya uang untuk pemakaman dikota dan juga untuk menyewa mobil ambulance maka dia memutuskan untuk membawa mayat anaknya kedesa menggunakan kereta api, tetapi polisi tetap tidak mau percaya akhirnya mereka dibawa kembali ke rumah sakit .
Sesampainya dirumah sakit pihak rumah sakit membenarkan bahwa mereka berdua memang datang kerumah sakit tetapi karena tidak sanggup membayar biaya maka pihak rumah sakit tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan anak perempuan tersebut. Akhirnya polisi percaya dan membebaskan ayah dan mayat anak perempuannya pergi.
Untuk kedua kalinya ayah yang menggendong mayat anak perempuannya harus berjalan kaki untuk menuju ke stasion kereta api yang memang sangat jauh. sesampainya di stasion dan menaiki kereta api ayahnya duduk di pojok gerbang dan setiap ada yang bertanya ayahnya hanya diam saja tak menjawab. Sesampainya didesa ayah meminta bantuan pada warga desa dan ada sebagian warga desa yang mau membantunya.
Setelah anak perempuannya dimakamkan ayah menangis tak henti-henti menyalahkan dirinya dan mengingat betapa beratnya perjuangan untuk menyelamatkan anaknya dan hingga anaknya meninggalpun dia masih harus berjuang untuk dapat menguburkannya dengan layak