Rabu, 08 Februari 2012

INDONESIA TELAH TERBIASA

“Dalam lima tahun terakhir, korupsi pendidikan potensial terjadi. Hal itu terlihat dari hasil audit BPK terhadap laporan keuangan Departemen Pendidikan Nasional, pengelolaan dana alokasi khusus (DAK) dan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Berdasarkan perhitungan ICW atas audit BPK hingga semester II-2007, ditemukan potensi penyelewengan di Depdiknas sebesar Rp 852,7 miliar. Penyimpangan itu antara lain terjadi pada pengelolaan aset (Rp 815,6 miliar), tidak tepat sasaran (Rp 10,5 miliar), tanpa bukti pertanggungjawaban (Rp 16,8 miliar), pemborosan (Rp 6,9 miliar), penyimpangan lain (Rp 2,9 miliar).”

Inilah realita yang terjadi di Indonesia. Kasus penyimpangan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) sudah banyak terungkap. Parahnya itu loooohhh!!! Depdiknas dengan gak punya hatinya justru terkesan “menuduh” pihak-pihak sekulah. Terkesan gak mo disalahin, Depdiknas bahkan menuntut KPK untuk meungusut pihak-pihak sekolah atas penyelewengan dana ini. Padahal dari data di atas bisa kita lihat bahwa kebanyakan potensi penyelewengan terjadi di Depdiknas. Loh mereka yang buat kok mereka yang nuduuh?? Lucu yaaah!! hAHAHAHAHA!!! Hal ini yang terkadang membuat pihak-pihak sekolah gak bisa buat apa2. Di satu sisi mereka tidak ingin oknum dinas menyelewengkan dana BOS sedangkan di sisi lain mereka takut melaporkan hal ini karena oknum dinas memiliki kuasa yang cukup besar untuk kembali menuntut mereka. Nah mati langkah kan lo???

Kadang hal2 seperti ini dah jadi kebiasaan buat Indonesia. Kita udah biasa dalam keterpurukan dan kematilangkahan kita… HELLOOOOOO!!! Bangsa ini dah NYAMAN ama keterpurukannya. Ini yang buat para pejabat enak maen2in rakyat kita… Lantas salahnya dimana?? Rakyat juga salaaaah!! Kenapa mereka nyaman ama keterpurukannya??? Kalo nanti udah terpuruk ajaaah baru demolah, brantem laaah!!

Bukti lain tentang bangsa ini dah nyaman adalaah respon bangsa ini yang tidak mau belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya. Sebenarnya hal ini bukan terjadi karena ketidakmampuan masyarakat tetapi karena ketidakmauan dan kurangnya sikap mandiri masyarakat sendiri. Masyarakat udah biasa menggantungkan diri pada para pejabat. Keadaan yang terlalu “nyaman” inilah yang menyebabkan kita gak pernah belajar!!

Kebiasaan bergantung pada pihak-pihak ini yang menyebabkan pihak-pihak itu berbuat khilaaaaaf. Terkadang para petinggi itu menganggap masyarakat sebagai mesin pencetak uang yang dengan mudahnya mereka operasikan. Parahnya lagi, apabila masyarakat mulai menyadari akan hal ini, pihak-pihak tersebut mulai mengeluarkan ancamannya.Lucu kan ketika masyarakat gak bisa berbuat apa-apa dalam sebuah negara yang bersistem demokrasi?

Demokrasi sendiri telah kehilangan makna terdalamnya. Sekarang yang terjadi adalah sistem demokrasi dikendalikan oleh beberapa pihak-pihak yang memiliki jabatan tertentu dan tentu saja mereka mengendalikannya atas kepentingan mereka sendiri.

Lantas gimana caranya??? Berontaklaah!! Memberontak pada kasus ini bukanlah pemberontakan secara fisik kepada pemerintah. Memberontak pada kasus ini adalah memberontak dalam keterpurukan bahkan kebiasaan bangsa ini untuk terpuruk. Mengeluarkan diri dari keterpurukan bukannlah suatu hal yang bisa dilakukan dengan setengah-setengah…. Jangan mau jadi sapi yang diiket idungnya taau!!!