Ada zaman dahulu, Kera(Ke) dengan
Ayam(Ay) bersahabat karib. Pada suatu hari kera mengundang sahabatnya untuk
pergi melancong. Karena sibuknya mereka melihat-lihat keindahan alam, mereka
lupa petang. Dalam perjalanan, kera merasa lapar. Karena laparnya itu kera
menangkap kawannya sambil berkata “aku akan memakan kamu”. Ayam itu
menggelepar-gelepar. Semua bulunya dicabuti oleh kera. Oleh karena ayam itu
kuat, maka terlepaslah ia dari tangan kera, lalu ia lari mencari sahabatnya
yang lain, yakni Kepiting(Kp).
Ketika bertemu Kp, Ay menceritakan kejadian hal ikhwal yang dialaminya itu
kepada Kp;
Ay : ” tadi aku hamper dimakan oleh
Ke !”
Kp : ”kenapa bisa?”
Ay : “tadi kami jalan bersama.
Tiba-tiba Ke merasa lapar, dan ia langsung mencabut buluku”
Kp : “kalau mencari kawan, kita
harus melihat mana yang setia dan mana yang tidak, mari masuk ke rumah saya
ini”
Ay : “baiklah”
Masuklah ayam itu ke dalam rumah kepiting, sambil ia meminta tolong untuk
mengembalikan bulunya seperti semula
Ay : “ Kp, bisakah engkau
mengembalikan keadaan buluku seperti semula?”
Kp : “belum bias saya pastikan
kawan, kita coba saja dulu ”
Ay : “makasih ya ”
Kp : “iya, sama-sama. Sekarang kamu
harus mandi dulu”
Kepiting itu memandikan kawannya(ayam) dengan santan. Begitu dibuatnya setiap
hari, sehingga hanya beberapa hari saja, bulu ayam itu tumbuh. Lama kelamaan
bulu ayam itu tumbuh dan kembali seperti semula. Ayam lalu bertanya lalu
bertanya kepada Kp:
Ay : “bagaimanakah akalnya untuk
membalas dendam kepada kera itu, sedang dia lebih tangkas dari kita?”
(mendengar pertanyaan sahabatnya itu Kp diam sejenak sambil berpikir)
Kp : “begini saja, kamu bantu saya
membuat perahu dari tanah yang saya keluarkan dari lubangku. Bilamana sudah
selesai, kamu pergi undang kera, kita menyebrang ke pulau sana yang banyak
buah-buahan”.
Bekerjalah mereka berdua membuat perahu dari tanah. Setelah selesai, lalu ayam
pergi mencari sahabatnya. Kera. Setelah betemu, ayam mengundang kera sahabatnya
untuk menyebrang pada sebuah pulau yang banyak buah-buahannya dan
pemandangannya sangat indah.
Kera itu bertanya :
Ke : “di manakah kita mendapat
perahu untuk menyebrang?”
Ay : “nanti saya ajak kawan saya
kepiting dan ia ahli di perahu” (jawab Ayam).
Mendengar berita itu, Kera sangat
gembira karena dipikirnya bahwa kalau mereka tiba dipulau itu, tentu ia akan
puas memanjat dan memakan buah-buahan, sedang kawannya tentu akan kelaparan
karena tidak tau memanjat.
Segera ayam menemui kepiting, sambil menyiapkan perahu yang pernah mereka buat.
Kemudian memanggil kera:
Ay : “Kera cepatlah kau ke sini,
kita akan ke pulau sebrang yang banyak buahnya”
Ke : “baiklah” (dengan merasa
bangga, kera melompat ke dalam perahu)
Kera tidak mengetahui bahwa ayam dan
kepiting telah bermufakat bahwa kalau di tengah laut, bilamana ada komando,
akan dilaksanakan dengan diam-diam agar perahu bocor dan tenggelam.
Maka berangkatlah mereka dengan perasaan gembira. Tiba di tengah laut, ayam itu
bernyanya-nyanyi. Demikian nyanyiannya :
Ay : “aku lubangi lho !!!”
Kp : “tunggu sampai dalam sekali lho
!!!” (Kepiting menjawab nyanyian temannya).
Lalu, kemudian Ayam mulai
mencontok-contok perahu itu, akhirnya perahu itu bocor, lalu tenggelam. Setelah
perahu tenggelam, kepiting menyelam ke dasar laut dan ayam terbang ke darat.
Sial bagi kera yang tidak tahu berenang, sehingga ia mati lemas di tengah laut.
Demikian cerita rakyat “La ndoke-ndoke te manu” dikalangan masyarakat
Buton, Sulawesi tenggara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar