Minggu, 01 Juli 2012

Cerita rakyat di kalangan masyarakat Buton (La Ndoke-ndoke te Manu) La Ndoke-ndoke te Manu (kera dengan ayam)


Ada zaman dahulu, Kera(Ke) dengan Ayam(Ay) bersahabat karib. Pada suatu hari kera mengundang sahabatnya untuk pergi melancong. Karena sibuknya mereka melihat-lihat keindahan alam, mereka lupa petang. Dalam perjalanan, kera merasa lapar. Karena laparnya itu kera menangkap kawannya sambil berkata “aku akan memakan kamu”. Ayam itu menggelepar-gelepar. Semua bulunya dicabuti oleh kera. Oleh karena ayam itu kuat, maka terlepaslah ia dari tangan kera, lalu ia lari mencari sahabatnya yang lain, yakni Kepiting(Kp).
            Ketika bertemu Kp, Ay menceritakan kejadian hal ikhwal yang dialaminya itu kepada Kp;
Ay : ” tadi aku hamper dimakan oleh Ke !”
Kp : ”kenapa bisa?”
Ay : “tadi kami jalan bersama. Tiba-tiba Ke merasa lapar, dan ia langsung mencabut buluku”
Kp : “kalau mencari kawan, kita harus melihat mana yang setia dan mana yang tidak, mari masuk ke         rumah saya ini”
Ay : “baiklah”
            Masuklah ayam itu ke dalam rumah kepiting, sambil ia meminta tolong untuk mengembalikan   bulunya seperti semula
Ay : “ Kp, bisakah engkau mengembalikan keadaan buluku seperti semula?”
Kp : “belum bias saya pastikan kawan, kita coba saja dulu ”
Ay : “makasih ya ”
Kp : “iya, sama-sama. Sekarang kamu harus mandi dulu”
            Kepiting itu memandikan kawannya(ayam) dengan santan. Begitu dibuatnya setiap hari, sehingga hanya beberapa hari saja, bulu ayam itu tumbuh. Lama kelamaan bulu ayam itu tumbuh dan kembali seperti semula. Ayam lalu bertanya lalu bertanya kepada Kp:
Ay : “bagaimanakah akalnya untuk membalas dendam kepada kera itu, sedang dia lebih tangkas dari                               kita?” (mendengar pertanyaan sahabatnya itu Kp diam sejenak sambil berpikir)
Kp : “begini saja, kamu bantu saya membuat perahu dari tanah yang saya keluarkan dari lubangku. Bilamana sudah selesai, kamu pergi undang kera, kita menyebrang ke pulau sana yang banyak buah-buahan”.
            Bekerjalah mereka berdua membuat perahu dari tanah. Setelah selesai, lalu ayam pergi mencari sahabatnya. Kera. Setelah betemu, ayam mengundang kera sahabatnya untuk menyebrang pada sebuah pulau yang banyak buah-buahannya dan pemandangannya sangat indah.
            Kera itu bertanya :
Ke : “di manakah kita mendapat perahu untuk menyebrang?”
Ay : “nanti saya ajak kawan saya kepiting dan ia ahli di perahu” (jawab Ayam).
        Mendengar berita itu, Kera sangat gembira karena dipikirnya bahwa kalau mereka tiba dipulau itu,   tentu ia akan puas memanjat dan memakan buah-buahan, sedang kawannya tentu akan kelaparan karena tidak tau memanjat.

            Segera ayam menemui kepiting, sambil menyiapkan perahu yang pernah mereka buat. Kemudian memanggil kera:
Ay : “Kera cepatlah kau ke sini, kita akan ke pulau sebrang yang banyak buahnya”
Ke : “baiklah” (dengan merasa bangga, kera melompat ke dalam perahu)
      Kera tidak mengetahui bahwa ayam dan kepiting telah bermufakat bahwa kalau di tengah laut,          bilamana ada komando, akan dilaksanakan dengan diam-diam agar perahu bocor dan tenggelam.
            Maka berangkatlah mereka dengan perasaan gembira. Tiba di tengah laut, ayam itu bernyanya-nyanyi. Demikian nyanyiannya :
Ay : “aku lubangi lho !!!”
Kp : “tunggu sampai dalam sekali lho !!!” (Kepiting menjawab nyanyian temannya).
Lalu, kemudian Ayam mulai mencontok-contok perahu itu, akhirnya perahu itu bocor, lalu tenggelam. Setelah perahu tenggelam, kepiting menyelam ke dasar laut dan ayam terbang ke darat. Sial bagi kera yang tidak tahu berenang, sehingga ia mati lemas di tengah laut.
            Demikian cerita rakyat “La ndoke-ndoke te manu” dikalangan masyarakat Buton, Sulawesi tenggara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar